Bulan Ramadhan (Puasa) sebentar lagi akan mendatangi diri kita, tepatnya pada tanggal 1 September 2008. Persiapan2 apakah yang sebaiknya kita lakukan ?
Inilah yang setidaknya bisa kita persiapkan sebelumya agar di bulan Ramadhan kali ini bisa menjadi suatu momentum agar kita menjadi orang yang Bertaqwa, dan semoga Amal ibadah kita pada bulan tersebut diterima oleh Allah SWT.
1.Persiapan Nafsiyah / Wujud adalah menyambut dengan hati yang gembira bahwasanya Ramadhan datang sebagai bulan untuk mendekatkan diri pada Allah SWT. Maknanya adalah akan memandang Ramadhan bukan sebagai bulan penuh beban, melainkan bulan untuk berlomba-lomba meningkatkan kualitas keimanan dan meraih derajat tertinggi di sisi Allah SWT.
Tazkiyatun nafsi (kesucian jiwa)
akan melahirkan keikhlasan, kesabaran, ketawakalan dan amalan-amalan hati
lainnya, yang akan menuntun seseorang kepada jenjang ibadah yang berkualitas
dan kuantitas. Dan salah satu cara untuk mempersiapkan jiwa dan spritual untuk
menyambut bulan suci Ramadhan adalah dengan jalan melatih dan memperbanyak
ibadah-ibadah di bulan-bulan sebelumnya (minimal di bulan Sya'ban),
dalam hadits 'Aisyah ra:
"Belum pernah Rasulullah Saw berpuasa (sunnah) di bulan-bulan lain, sebanyak
yang ia lakukan di bulan Sya'ban." [HR. Muslim].
Seorang yang menjalani ibadah puasa di Bulan Ramadhan tanpa memiliki kesiapan
secara nafsiyah dikhawatirkan puasanya akan menjadi sia-sia
sebagaimana hadits
Dari Abu Hurairah ra berkata, Rasulullah Saw bersabda :
"Berapa banyak orang berpuasa, tidak mendapatkan sesuatu pun dari puasanya
kecuali lapar. Dan berapa banyak orang yang shalat malam, tidak mendapatkan
sesuatu pun dari shalatnya melainkan hanya bergadang." [HR. Ibnu Majah].
2. Persiapan Fikriyah ( ilmu ) Agar amal Ibadah kita di bulan Ramadhan optimal maka, diperlukan pemahaman mendalam mengenai fiqh shaum. Persiapan ilmu sangatlah penting bagi seorang muslim untuk mendapatkannya. Dengan pemahaman (fiqh) shaum ( puasa ) yang baik, akan dapat memahami dengan benar mana perbuatan yang dapat merusak nilai puasanya atau mana perbuatan yang dapat meningkatkan nilai dan kualitas shaumnya.
3. Persiapan Jasadiyah Dalam aktifitas Ramadhan banyak memerlukan kekuatan fisik; untuk shaum, tarawih, tilawah dan aktifitas ibadah lainnya. Kondisi fisik yang baik dapat melakukan ibadah secara maksimal dan bila kondisi fisik tidak prima terbuka peluang untuk terlewatkan begitu saja. Padahal nilai amaliyah Ramadhan tidak dapat tergantikan pada bulan yang lain.
4. Persiapan Maaliyah ( harta ) Persiapan maaliyah ini bukanlah untuk membeli segala pakaian baru atau bekal perjalanan pulang kampung. Akan tetapi untuk infaq, shadaqah dan zakat. Sebab nilai balasan infaq, shadaqah dan zakat akan dilipat gandakan sebagaimana kehendak Allah Swt.
Imam at-Tirmidzi meriwayatkan :
"Rasulullah pernah ditanya, 'Sedekah apakah yang paling utama?' Beliau
menjawab, 'Seutama-utamanya sedekah adalah sedekah di bulan Ramadhan'."
Karena itu, sebaiknya dibuat sebuah agenda maliyah yang memprediksikan pengeluaran dan pendapatan selama bulan Ramadhan. Dengan jelas posisi keuangan kita dapat melakukan penjadwalan dan mengalokasikan shadaqah dan infaq serta makanan yang akan kita berikan sepanjang bulan itu. Karena momen Ramadhan merupakan momen yang paling tepat dan utama dalam penyaluran ibadah maliyah kita.
diceritakan oleh Ibnu 'Abbas ra :
"Nabi Saw adalah orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan pada
bulan Ramadhan, saat beliau ditemui Jibril untuk membacakan kepadanya
al-Qur'an. Jibril menemui setiap malam pada bulan Ramadhan, lalu membacakan
kepadanya al-Qur'an. Rasulullah Saw ketika ditemui Jibril lebih dermawan dalam
kebaikan daripada angin yang berhembus."[HR. Bukhari dan Muslim].